Dulu sekali, saat duniaku masih belum menjadi gelap, aku bahagia terlahir dan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, tanah tumpah darahku ini indah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Tahu dari mana? Buku-buku, majalah anak dan ensiklopedi yang dibelikan Ibu, menceritakan semua. Bahkan lagu-lagu lawas yang sering diputar Bapak keras-keras setiap hari Minggu pun ikut memvalidasinya. Kata penyanyinya, cukup berbekal kail dan jala, aku dan orang-orang yang tinggal di sini dapat hidup dengan sejahtera.
Terlintas dalam benakku saat itu, bahwa lahir di sini adalah sebuah keberuntungan. Masa depanku akan cerah, hidupku akan terjamin. Harapan besar kugenggam erat. Tuhan benar-benar menyayangiku.
Seiring dengan bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa tanah tempatku berpijak sebenarnya tidak layak ditinggali. Negeriku yang indah dan sangat kucinta sekarang sudah rusak parah dan dikuasai para mafia oligarki. Semua sistem pro-rakyat dikoyak. Kekayaan alam berupa bahan tambang dikeruk untuk memperkaya diri mereka sendiri. Hutan-hutan dibabat habis, diubah menjadi perkebunan sawit jutaan hektar. Satwa-satwa liar dibunuh karena dianggap hama yang merugikan mereka. Kami, manusia dan satwa liar, hanya kebagian sengsara dan bencananya saja. Kami dibiarkan perlahan mati kelaparan, kedinginan, dan kesakitan. Menanggung perbuatan mereka. Dalam hati aku berjanji, seumur hidup tidak akan pernah kumaafkan, dendam ini akan kupelihara dan kuwariskan kepada anak-cucuku.
Setiap hari aku menyesali dan meratapi keadaan ini, padahal secercah harapan itu pernah ada. Namun rakyat yang sudah terlalu lama kelaparan tentu lebih memilih untuk makan hingga kenyang saja. Tidak sempat berpikir apa konsekuensinya jika terus-terusan memakan racun berbalut madu. Akhirnya salah pilih berujung pada susah pulih. Apes.
Waktu terus berjalan, aku menyaksikan kerusakan dan kejahatan terjadi secara bertubi-tubi. Mentalku serasa dihajar habis-habisan. Patah hati sepatah-patahnya, ingin menjerit, ingin berontak tidak ada gunanya. Di tempat ini tidak ada yang dimintai tolong, bahkan suaraku sering dibungkam. Perasaanku campur aduk. Aku tidak berdaya, tidak punya kuasa untuk menyelamatkan negeri ini, mengembalikannya pada masa kejayaannya. Benar-benar seperti neraka di dunia. Ingin rasanya melarikan diri, pergi sejauh mungkin. Kabur saja dulu? Tentu tidak, belum berani.
Bertahun-tahun aku membenci diriku yang tidak dapat berbuat apa-apa selain mencaci maki. Aku hanya seorang pecundang yang cuma bisa menulis, tanpa aksi nyata. Aku bagian dari masalah karena aku diam saja. Aku merasa wajib memanggul beban ini sendirian, seolah-olah seluruh kehancuran adalah tanggung jawab pribadiku. Aku menuntut diriku untuk menjadi malaikat tanpa sayap, sanggup membalikkan tatanan yang dibangun oleh iblis berkuasa. Setiap hari aku berpikir bagaimana cara keluar dari sistem yang melestarikan kebodohan dan kemiskinan ini? Tuntutan itu melahap sisa-sisa energiku, lebih cepat daripada limbah tambang mencemari sungai-sungai dan lautan. Aku menyadari, musuh terbesarku bukan hanya mereka yang berdasi, melainkan standar heroik yang kumasukkan ke dalam jiwaku sendiri.
Setiap waktu luka menganga dalam batin terus melebar. Rasa bersalah kian menjeratku. Aku ingin lepas. Apakah sudah saatnya aku berdamai dengan semua ini dan menerima takdir? Mungkin memang harus begitu. Kalau ini takdir yang tidak bisa kuubah, aku akan masuk surga lewat jalur jelata yang didzolimi. Seperti selorohan warganet. Kocak sekaligus getir.
Di titik nadirku, di duniaku yang gelap, aku berhenti sejenak untuk mengambil jeda sebelum menentukan langkah. Aku bersujud, merangkul bumi, melangitkan doa, meletakkan beban, amarah dan dendam.
Di detik ini aku harus memilih. Bukan antara melawan atau diam, melainkan antara bertahan hidup atau hancur dimakan amarah. Aku menyerah, bukan pada kejahatan mereka, melainkan pada tuntutan batinku sendiri yang tak pernah berhenti. Aku terlalu lama memaksakan diri menjadi benteng terakhir yang tidak akan pernah menang.
Hari ini, aku menarik garis tegas, yakni batasan antara apa yang menjadi tanggung jawabku dan apa yang berada di luar kuasaku. Aku menolak menjadi korban ganda; korban kejahatan mereka dan korban ekspektasi diriku sendiri. Kupeluk dan kumaafkan diriku, atas segala upaya yang telah kulakukan hingga titik darah penghabisan mental ini. Aku memaafkan diriku yang gagal menjadi pahlawan. Aku memaafkan kebodohanku yang percaya aku bisa mengubah takdir sebesar ini sendirian.
Kini ada perasaan sedikit lega karena aku mengizinkan diriku untuk tidak lagi merasa bersalah. Beban di dadaku, yang kuanggap amarah, ternyata adalah rasa wajib yang tak terjangkau. Kini, beban itu telah turun, menyisakan ruang hampa yang dingin. Meskipun kemarahan dan kebencian pada mereka tetap ada, tak bisa dipungkiri. Yang jelas tak seorang pun berhak menghancurkan sisa-sisa warasku.
Keimanan adalah pegangan terakhirku. Terdengar naif dan klise, tapi memang itu kebenarannya. Di sanalah, aku menemukan sedikit ruang bernapas yang tak mampu dijangkau oleh kekuasaan mereka. Aku bersyukur tetap bisa bertahan untuk tidak menjadi gila atau kehilangan akal. Aku akan terus bersuara, meski tidak didengar manusia, meski aku tidak yakin akan ada hasilnya atau tidak di dunia ini. Suara ini adalah bukti terakhir bahwa aku menolak menjadi mati rasa. Aku bersuara agar menjadi catatan bagi Tuhan, di sisi mana aku berdiri. Saat waktunya tiba, aku akan bersaksi bahwa aku tetap hidup dan akal sehatku tidak pernah mereka renggut.
Wonogiri, Desember 2025