Wednesday, December 3, 2025

Ingin Jadi Kaya, Bismillah

 Tiba-tiba hari ini aku ingin jadi kaya-raya, entah rasanya seperti menggebu-gebu. Kalo dipikir-pikir selama ini tujuanku bekerja cukup naif: menjadi manusia yang bermanfaat dan mempunyai penghasilan yang cukup untuk kebutuhan dasar serta sedikit bersenang-senang. Tujuanku (aku rasa) sudah tercapai, karena selama ini pekerjaanku adalah pelayan masyarakat, pun gajiku tiap bulan lumayan lah. Hingga pada akhirnya tibalah hari ini. Sebuah momen yang membuatku berpikir ulang dalam menetapkan tujuan bekerja maupun tujuan hidup. Begini ceritanya :

Seorang balita perempuan yang hari ini berusia 1 tahun 3 bulan, datang ke Puskesmas bersama ibunya. Dia memang dijadwalkan untuk pembacaan Tes Mantoux, setelah 2 hari sebelumnya disuntik cairan tuberkulin. Hasilnya meragukan, kami (aku dan rekan sejawat) bersama perawat kemudian merujuk ke dokter umum. Dokter umum pun ragu, lalu menyarankan dirujuk ke dokter spesialis anak (DSA) di rumah sakit terdekat. Masalah lama muncul : orang tua balita terkendala biaya. Kami nggak kaget sih sebenernya, karena sebelumnya balita ini sudah kami kunjungi rumahnya untuk konfirmasi kasus gizi buruk di akhir bulan November. Rumahnya sederhana, namun lantai masih tanah, meski dinding sudah tembok. Kondisinya memprihatinkan sekali. Mereka sekeluarga sebenarnya punya BPJS non PBI, tapi nggak aktif karena beberapa bulan menunggak iuran. Sejujurnya kurang lebih 2 minggu sebelum kunjungan rumah pun kami sudah mengkomunikasikan ke bidan desa dan kader kesehatan setempat yang juga mantan ketua RT terkait masalah ini, siapa tau bisa diteruskan ke pemerintah desa. Kami berharap ada kebijakan agar keluarga balita ini diusulkan menjadi penerima BPJS PBI atau penerima program keluarga harapan (PKH). Namun entah disampaikan ke pemerintah desa atau nggak, kami pikir sudah cukup menyampaikan aspirasi kepada bidan desa dan kader setempat. Kalo mau bertindak lebih jauh kok rasanya nggak etis, takut melangkahi wewenang bidan yang bersangkutan. 

Kalo menengok ke belakang lagi, balita ini sudah terdeteksi bermasalah sejak Bulan Juli tahun ini, saat itu usianya masih di bawah 1 tahun. Kebetulan di bulan yang sama, ada kunjungan DSA ke Puskesmas, balita ini kami undang untuk diperiksa. DSA hanya memberi advice agar memperbaiki menu, meresepkan susu tinggi kalori, dan memantau berat badan bulanan dengan datang ke Posyandu. Sebagai tindak lanjut, balita ini kami masukkan ke sasaran penerima program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama kurang lebih 2 bulan. Hasilnya, berat badan tidak naik secara signifikan, cenderung stuck bahkan turun. Sesuai tatalaksana, seharusnya balita ini sesegera mungkin dirujuk ke rumah sakit. Tetapi setelah kami cek status BPJS-nya, ternyata nonaktif, proses rujukan kami pending sambil mengkomunikasikan kepada bidan desa setempat seperti ceritaku di atas.

Nah, hari ini aku nggak mau nunggu harapan kosong lagi. Meski bukan kondisi kritis, tapi  mempertimbangkan riwayat masalah gizi si balita yang nggak selesai selama berbulan-bulan, aku memberanikan diri untuk menanggung semua biaya pemeriksaan ke DSA. Aku niatkan untuk bersedekah karena balita memang berasal dari keluarga prasejahtera. Pokoknya masalah gizi harus segera teratasi. Aku nggak ikut ngrujuk karena harus melaksanakan pekerjaan lain. Setelah menunggu beberapa saat, rekan sejawatku yang ikut mendampingi rujukan ke DSA mengabari kalo si balita didiagnosis TBC berdasarkan hasil pembacaan Tes Mantoux, sehingga harus menjalani pengobatan rutin di RS selama 2 bulan. DSA juga memberitahukan bahwa balita harus diperiksa rontgen thorax. 

Alhamdulillah satu masalah ketemu akarnya. Entah kenapa rasanya happy, ngrasa lebih bermanfaat bagi sesama dibanding melakukan pekerjaan yang selama ini menjadi rutinitasku. Bukan mendiskreditkan lho ya, cuma entah feel-nya beda aja. Apa ini ujub? Semoga bukan. Pokoknya di titik ini aku bener-bener berpikir bahwa aku harus lebih punya power berupa harta benda alias uang yang banyaaak, supaya lebih bermanfaat lagi. Terlebih, melihat kondisi negara ini di mana kemiskinan struktural merajalela, banyak bencana (ekologi), hutan rusak, dll. sementara pemerintah nggak bisa sepenuhnya diharapkan. Aku pikir sudah saatnya sekarang lebih berdaya dan harus punya income tambahan biar punya banyak uaaang, biar bisa membeli hutan untuk dilestarikan juga. Eh, kan bisa lewat membuka penggalangan dana? Pertanggungjawaban lebih besar, beda ya kalo make uang sendiri. Mungkin ini bukan tentang kaya si yaa, tapi tentang daya. Dan hari ini aku ingin punya daya untuk melindungi lebih banyak nyawa

No comments:

Post a Comment