Wednesday, December 31, 2025

Yang Tak Bisa Kuselamatkan Selain Diriku

           Dulu sekali, saat duniaku masih belum menjadi gelap, aku bahagia terlahir dan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, tanah tumpah darahku ini indah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Tahu dari mana? Buku-buku, majalah anak dan ensiklopedi yang dibelikan Ibu, menceritakan semua. Bahkan lagu-lagu lawas yang sering diputar Bapak keras-keras setiap hari Minggu pun ikut memvalidasinya. Kata penyanyinya, cukup berbekal kail dan jala, aku dan orang-orang yang tinggal di sini dapat hidup dengan sejahtera. 

Terlintas dalam benakku saat itu, bahwa lahir di sini adalah sebuah keberuntungan. Masa depanku akan cerah, hidupku akan terjamin. Harapan besar kugenggam erat. Tuhan benar-benar menyayangiku. 

Seiring dengan bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa tanah tempatku berpijak sebenarnya tidak layak ditinggali. Negeriku yang indah dan sangat kucinta sekarang sudah rusak parah dan dikuasai para mafia oligarki. Semua sistem pro-rakyat dikoyak. Kekayaan alam berupa bahan tambang dikeruk untuk memperkaya diri mereka sendiri. Hutan-hutan dibabat habis, diubah menjadi perkebunan sawit jutaan hektar. Satwa-satwa liar dibunuh karena dianggap hama yang merugikan mereka. Kami, manusia dan satwa liar, hanya kebagian sengsara dan bencananya saja. Kami dibiarkan perlahan mati kelaparan, kedinginan, dan kesakitan. Menanggung perbuatan mereka. Dalam hati aku berjanji, seumur hidup tidak akan pernah kumaafkan, dendam ini akan kupelihara dan kuwariskan kepada anak-cucuku.

Setiap hari aku menyesali dan meratapi keadaan ini, padahal secercah harapan itu pernah ada. Namun rakyat yang sudah terlalu lama kelaparan tentu lebih memilih untuk makan hingga kenyang saja. Tidak sempat berpikir apa konsekuensinya jika terus-terusan memakan racun berbalut madu. Akhirnya salah pilih berujung pada susah pulih. Apes.

Waktu terus berjalan, aku menyaksikan kerusakan dan kejahatan terjadi secara bertubi-tubi. Mentalku serasa dihajar habis-habisan. Patah hati sepatah-patahnya, ingin menjerit, ingin berontak tidak ada gunanya. Di tempat ini tidak ada yang dimintai tolong, bahkan suaraku sering dibungkam. Perasaanku campur aduk. Aku tidak berdaya, tidak punya kuasa untuk menyelamatkan negeri ini, mengembalikannya pada masa kejayaannya. Benar-benar seperti neraka di dunia. Ingin rasanya melarikan diri, pergi sejauh mungkin. Kabur saja dulu? Tentu tidak, belum berani.

Bertahun-tahun aku membenci diriku yang tidak dapat berbuat apa-apa selain mencaci maki. Aku hanya seorang pecundang yang cuma bisa menulis, tanpa aksi nyata. Aku bagian dari masalah karena aku diam saja. Aku merasa wajib memanggul beban ini sendirian, seolah-olah seluruh kehancuran adalah tanggung jawab pribadiku. Aku menuntut diriku untuk menjadi malaikat tanpa sayap, sanggup membalikkan tatanan yang dibangun oleh iblis berkuasa. Setiap hari aku berpikir bagaimana cara keluar dari sistem yang melestarikan kebodohan dan kemiskinan ini? Tuntutan itu melahap sisa-sisa energiku, lebih cepat daripada limbah tambang mencemari sungai-sungai dan lautan. Aku menyadari, musuh terbesarku bukan hanya mereka yang berdasi, melainkan standar heroik yang kumasukkan ke dalam jiwaku sendiri.

Setiap waktu luka menganga dalam batin terus melebar. Rasa bersalah kian menjeratku. Aku ingin lepas. Apakah sudah saatnya aku berdamai dengan semua ini dan menerima takdir? Mungkin memang harus begitu. Kalau ini takdir yang tidak bisa kuubah, aku akan masuk surga lewat jalur jelata yang didzolimi. Seperti selorohan warganet. Kocak sekaligus getir. 

Di titik nadirku, di duniaku yang gelap, aku berhenti sejenak untuk mengambil jeda sebelum menentukan langkah. Aku bersujud, merangkul bumi, melangitkan doa, meletakkan beban, amarah dan dendam.

Di detik ini aku harus memilih. Bukan antara melawan atau diam, melainkan antara bertahan hidup atau hancur dimakan amarah. Aku menyerah, bukan pada kejahatan mereka, melainkan pada tuntutan batinku sendiri yang tak pernah berhenti. Aku terlalu lama memaksakan diri menjadi benteng terakhir yang tidak akan pernah menang. 

Hari ini, aku menarik garis tegas, yakni batasan antara apa yang menjadi tanggung jawabku dan apa yang berada di luar kuasaku. Aku menolak menjadi korban ganda; korban kejahatan mereka dan korban ekspektasi diriku sendiri. Kupeluk dan kumaafkan diriku, atas segala upaya yang telah kulakukan hingga titik darah penghabisan mental ini. Aku memaafkan diriku yang gagal menjadi pahlawan. Aku memaafkan kebodohanku yang percaya aku bisa mengubah takdir sebesar ini sendirian. 

Kini ada perasaan sedikit lega karena aku mengizinkan diriku untuk tidak lagi merasa bersalah. Beban di dadaku, yang kuanggap amarah, ternyata adalah rasa wajib yang tak terjangkau. Kini, beban itu telah turun, menyisakan ruang hampa yang dingin. Meskipun kemarahan dan kebencian pada mereka tetap ada, tak bisa dipungkiri. Yang jelas tak seorang pun berhak menghancurkan sisa-sisa warasku. 

Keimanan adalah pegangan terakhirku. Terdengar naif dan klise, tapi memang itu kebenarannya. Di sanalah, aku menemukan sedikit ruang bernapas yang tak mampu dijangkau oleh kekuasaan mereka. Aku bersyukur tetap bisa bertahan untuk tidak menjadi gila atau kehilangan akal. Aku akan terus bersuara, meski tidak didengar manusia, meski aku tidak yakin akan ada hasilnya atau tidak di dunia ini. Suara ini adalah bukti terakhir bahwa aku menolak menjadi mati rasa. Aku bersuara agar menjadi catatan bagi Tuhan, di sisi mana aku berdiri. Saat waktunya tiba, aku akan bersaksi bahwa aku tetap hidup dan akal sehatku tidak pernah mereka renggut.



Wonogiri, Desember 2025

Wednesday, December 3, 2025

Ingin Jadi Kaya, Bismillah

 Tiba-tiba hari ini aku ingin jadi kaya-raya, entah rasanya seperti menggebu-gebu. Kalo dipikir-pikir selama ini tujuanku bekerja cukup naif: menjadi manusia yang bermanfaat dan mempunyai penghasilan yang cukup untuk kebutuhan dasar serta sedikit bersenang-senang. Tujuanku (aku rasa) sudah tercapai, karena selama ini pekerjaanku adalah pelayan masyarakat, pun gajiku tiap bulan lumayan lah. Hingga pada akhirnya tibalah hari ini. Sebuah momen yang membuatku berpikir ulang dalam menetapkan tujuan bekerja maupun tujuan hidup. Begini ceritanya :

Seorang balita perempuan yang hari ini berusia 1 tahun 3 bulan, datang ke Puskesmas bersama ibunya. Dia memang dijadwalkan untuk pembacaan Tes Mantoux, setelah 2 hari sebelumnya disuntik cairan tuberkulin. Hasilnya meragukan, kami (aku dan rekan sejawat) bersama perawat kemudian merujuk ke dokter umum. Dokter umum pun ragu, lalu menyarankan dirujuk ke dokter spesialis anak (DSA) di rumah sakit terdekat. Masalah lama muncul : orang tua balita terkendala biaya. Kami nggak kaget sih sebenernya, karena sebelumnya balita ini sudah kami kunjungi rumahnya untuk konfirmasi kasus gizi buruk di akhir bulan November. Rumahnya sederhana, namun lantai masih tanah, meski dinding sudah tembok. Kondisinya memprihatinkan sekali. Mereka sekeluarga sebenarnya punya BPJS non PBI, tapi nggak aktif karena beberapa bulan menunggak iuran. Sejujurnya kurang lebih 2 minggu sebelum kunjungan rumah pun kami sudah mengkomunikasikan ke bidan desa dan kader kesehatan setempat yang juga mantan ketua RT terkait masalah ini, siapa tau bisa diteruskan ke pemerintah desa. Kami berharap ada kebijakan agar keluarga balita ini diusulkan menjadi penerima BPJS PBI atau penerima program keluarga harapan (PKH). Namun entah disampaikan ke pemerintah desa atau nggak, kami pikir sudah cukup menyampaikan aspirasi kepada bidan desa dan kader setempat. Kalo mau bertindak lebih jauh kok rasanya nggak etis, takut melangkahi wewenang bidan yang bersangkutan. 

Kalo menengok ke belakang lagi, balita ini sudah terdeteksi bermasalah sejak Bulan Juli tahun ini, saat itu usianya masih di bawah 1 tahun. Kebetulan di bulan yang sama, ada kunjungan DSA ke Puskesmas, balita ini kami undang untuk diperiksa. DSA hanya memberi advice agar memperbaiki menu, meresepkan susu tinggi kalori, dan memantau berat badan bulanan dengan datang ke Posyandu. Sebagai tindak lanjut, balita ini kami masukkan ke sasaran penerima program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama kurang lebih 2 bulan. Hasilnya, berat badan tidak naik secara signifikan, cenderung stuck bahkan turun. Sesuai tatalaksana, seharusnya balita ini sesegera mungkin dirujuk ke rumah sakit. Tetapi setelah kami cek status BPJS-nya, ternyata nonaktif, proses rujukan kami pending sambil mengkomunikasikan kepada bidan desa setempat seperti ceritaku di atas.

Nah, hari ini aku nggak mau nunggu harapan kosong lagi. Meski bukan kondisi kritis, tapi  mempertimbangkan riwayat masalah gizi si balita yang nggak selesai selama berbulan-bulan, aku memberanikan diri untuk menanggung semua biaya pemeriksaan ke DSA. Aku niatkan untuk bersedekah karena balita memang berasal dari keluarga prasejahtera. Pokoknya masalah gizi harus segera teratasi. Aku nggak ikut ngrujuk karena harus melaksanakan pekerjaan lain. Setelah menunggu beberapa saat, rekan sejawatku yang ikut mendampingi rujukan ke DSA mengabari kalo si balita didiagnosis TBC berdasarkan hasil pembacaan Tes Mantoux, sehingga harus menjalani pengobatan rutin di RS selama 2 bulan. DSA juga memberitahukan bahwa balita harus diperiksa rontgen thorax. 

Alhamdulillah satu masalah ketemu akarnya. Entah kenapa rasanya happy, ngrasa lebih bermanfaat bagi sesama dibanding melakukan pekerjaan yang selama ini menjadi rutinitasku. Bukan mendiskreditkan lho ya, cuma entah feel-nya beda aja. Apa ini ujub? Semoga bukan. Pokoknya di titik ini aku bener-bener berpikir bahwa aku harus lebih punya power berupa harta benda alias uang yang banyaaak, supaya lebih bermanfaat lagi. Terlebih, melihat kondisi negara ini di mana kemiskinan struktural merajalela, banyak bencana (ekologi), hutan rusak, dll. sementara pemerintah nggak bisa sepenuhnya diharapkan. Aku pikir sudah saatnya sekarang lebih berdaya dan harus punya income tambahan biar punya banyak uaaang, biar bisa membeli hutan untuk dilestarikan juga. Eh, kan bisa lewat membuka penggalangan dana? Pertanggungjawaban lebih besar, beda ya kalo make uang sendiri. Mungkin ini bukan tentang kaya si yaa, tapi tentang daya. Dan hari ini aku ingin punya daya untuk melindungi lebih banyak nyawa

Sunday, February 16, 2025

BAHLIL

Babar pisan ora patut ditiru

Amarga ala tumindak apadene rupa

Hahahaha

Lelakon kere munggah bale pancen nyata anane

Ing atase paribasan wong kabur kanginan

Lewa-lewa mak clingkrik dadi punggawaning raja



16022025