Showing posts with label true story. Show all posts
Showing posts with label true story. Show all posts

Monday, October 31, 2016

Bligo Lagi

Feed blog saya untuk beberapa waktu ke depan mungkin masih mengulas tentang kebligo-bligoan dan akan terbagi menjadi beberapa part. Hehehe. Kali ini saya cuma mau sharing dikiiittt aja. 
Jadi dulu saya mendapat tawaran dari dosen pembimbing untuk mengajukan hak paten pembuatan minuman probiotik berbasis sari buah plus formulasinya ke LPPM. Memang menggiurkan ya kalo dipikir-pikir. Asik banget bisa dapet royalti kalo ada yang make produk kekayaan intelektual kita. Tapi kemudian saya menolak. Alasannya apaaa? Yang jelas lebih dari satu.
Minuman sakti yang bakal bikin kamu happy

Pertama adalah teknik pembuatan minuman tersebut adalah modifikasi dari penelitian sebelumnya yang serupa. Ya memang sih kalau untuk formulasinya itu murni dari eksperimen saya pribadi (dengan bimbingan dari dosen dan masukan dari teknisi laboratorium tentunya hehehe). Kedua, hal tersebut agak berseberangan dengan visi-misi hidup saya. Hahaha. Bahasanya berat yaaa. Intinya sebagai pengagum Nikola Tesla dan Dr. Jonas Salk, sepertinya saya tidak perlu mematenkan produk kekayaan intelektual yang "remeh temeh" seperti itu. Bukan tidak menghargai diri sendiri sih. Tapi akan ada kepuasan tersendiri jika apa yang saya buat bisa bebas digunakan oleh masyarakat luas. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Saya sama sekali tidak khawatir jika karya saya mau diplagiasi atau diklaim orang lain. Yang udah tertanam di hati adalah, lebah tak akan menyengat duluan kalau nggak diganggu. Tentu kalau ada klaim, saya akan bereaksi.
Mungkin karena saya masih menjadi manusia bebas yang (belum) memiliki ambisi untuk berkuasa atau menjadi ternama, idealisme saya masih menang. Tapi nggak akan yang tau hari esok bagaimana. Hahaha. Tidak ada garansi saya akan tetap demikian, karena saya hanya seorang hamba dari Sang Pembolak-Balik Hati. Saya hanya berdoa dan berusaha agar hati saya diteguhkan pada kebenaran. Aammiinn.
Akhir kata, could you patent the sun?

Monday, September 5, 2016

Gadis Misterius dalam Bus

Senin siang yang terik. Aku baru bangun dari mimpi indahku : ngelus-elus kumisnya mas Rio Dewanto. Hehehe. Ngliat jam, ternyata udah jam setengah satu siang. Kebangun juga gara-gara si Putri nelpon. Biasanya kalo nggak ada halangan dan rintangan, kekeboan ini bisa berlangsung sampai bedug ashar. Maklum lah jam 5 pagi baru mulai tidur karena habis khataman film. Aku bergegas mandi meski mata masih sepet dan merah. Pas masih asyik keramas, handphone bunyi lagi. Roman-romannya Putri udah nyampe kosan. Prosesi mandi kupercepat, dan ternyata benar, Putri udah nunggu di bawah.
Setelah ngobral-ngobrol ala gadis rumpi dan ambil dagangan dari Putri, aku lekas bersiap-siap dandan buat ke Shopping. Rencananya sih mau beli buku tentang pengolahan nata de coco, yaaa latian bikin usaha sampingan lah buat modal pernikahan yang waktu dan sama siapanya hanya Tuhan-lah yang tau. Hiks. 
Jarak kos-halte Transjogja kalo diitung-itung ada 1000 meter alias 1 km, kutempuh dengan waktu 20 menit on foot. Alhamdulillah kali ini jalan kerasa enteng setelah berat badan turun sekilo, efek habis mewek sepanjang weekend karena tetiba inget mas mantan. Huhuhu. Oh iya, perlu jij ketahui bahwa saat itu cuaca lagi nggak bersahabat karena terik banget, jadi jalan jarak pendek aja rasanya kayak udah sia-sia aja make deodoran.
Setelah berpeluh-peluh dan kadar kekecean mendadak turun 20% karena keringetan, akhirnya sampe juga di halte. Nunggu bus jalur 3A dateng sekitar 15 menitan. Untung busnya pake AC dan dapet tempat duduk. Di dalem bus yang lumayan penuh sesak itu, ada satu penumpang yang menarik perhatianku. Seorang mbak-mbak yang usianya paling cuma selisih 2 tahun lebih muda dariku. Doi duduk di kursi belakang dengan membawa tas ransel berwarna biru telur bebek yang udah lusuh dan kumal. Disampingnya ada kardus besar yang ditali rafia, kayaknya sih barang bawaannya. Dengan pengamatan teknik curi-curi pandang, akhirnya aku bisa menilai appearance mbaknya dari ujung kepala sampe ujung kaki. Si mbak berkulit putih, tapi wajahnya agak pucat. Rambutnya dikucir ekor kuda dengan poni ala harajuku. Dari segi tata busana, mbaknya keliatan boyish dengan jaket, celana panjang ripped boyfriend kekinian dan sepatu kets.
Kemacetan panjang sekitar Tugu membuatku semakin kepo sama mbaknya karena si mbak keliatan sedih gitu. Wajahnya sendu dengan aura kesedihan terpancar kuat. Agak kasian, tapi akhirnya perhatianku teralihkan dengan pemandangan Jl Malioboro yang lagi dibenahi, ngrasa "wah" gitu, kayak udah lama nggak kesini. Aku lantas bersiap-siap turun karena sebentar lagi nyampe Halte Malioboro 3. 
***
Ternyata susah juga nyari buku idaman terbitan Kanisius itu. Setelah ngublek lantai 1 Shopping sendirian kayak gadis-gadis independent tangguh umumnya, akhirnya pindah ke lantai 2. Agak hopeless juga karena hampir tiga perempat jam belum ada tanda-tanda menemukan buku sakti. Sampe di kios yang menjual buku-buku kawak, ada titik cerah. Meski bukan buku yang aku cari tapi akhirnya aku beli aja, yang penting judulnya ada kata nata de coco-nya. Hehe. Sambil nunggu mbak penjual menyampuli buku, aku iseng nanya ada buku Hilman-Boim yang Lupus atau enggak. Mbaknya bilang ada, akhirnya aku beli 2 biji buku cerita favorit sejak jaman masih kencur itu. Setelah puas mendapatkan buku sakti, aku memutuskan untuk langsung pulang saja karena mikir buat apa berlama-lama di tempat penuh kenangan itu (dulu aku waktu muda sempet dagang buku buat fundraising organisasi jurusan, jadi sering kesini buat ambil buku dan akhirnya kecantol sama mas-mas berdada bidang berbulu lebat yang wajahnya mirip sama Ezra Miller. Hehehe. Bagian terakhir fiktif ya). 
Sampai di halte, kulirik jam tangan butut di pergelangan tangan, masih jam 4 sore. Masih aman. Belakangan, suka ngeri kalo pulang malem sendiri naik bus. Takut ada orang jahat yang ingin mencelakai gadis manis polos sepertiku. Huhu. Akhirnya bus jalur 2B dateng, membuyarkan lamunan tentang ketakutan-ketakutan sebagai gadis jomblo yang taun depan udah berumur seperempat abad. Aku bergegas naik, lalu 10 menit kemudian aku telah berada di halte Ngabean buat oper bus jalur 3B. 
Di halte Ngabean yang penuh sesak itu ada sekumpulan anak SMA yang bercanda cekakak-cekikik-cekukuk, seakan-akan tak ada beban di hidup mereka. Lalu disusul kedatangan sekelompok bule yang kulitnya nggak bule, kayaknya sih turis dari India (atau negara serumpun), yaa South Asian guys gitu. Mereka nampak gegap gempita gundah gulana nanya ke petugas Transjogja yang bahasa Inggrisnya pas-pasan sama kayak aku. Hehe.
Bus jalur 3B akhirnya datang dan mbak-mas turis tadi ternyata satu bus sama aku. Nggak ijk duga, ternyata ketemu lagi sama mbak-mbak muka pucat yang aku ceritakan tadi!! Lengkap dengan kardus besar yang kini pindah, ditaruh di depannya. Tempat duduk si mbak tetap di kursi belakang, namun udah nggak di sisi kanan kayak waktu pas berangkat tadi, pindah ke sisi kiri. Serem ih. Macem coincidence gitu. Lagipula nggak habis pikir sih, kok bisa pas banget satu bus lagi! Padahal tadi pas berangkat naik jalur 3A, terus sempet ke Shopping, eh ujungnya ketemu lagi di bus 3B. Sungguh suatu keajaiban (lebay kumat). 
Sesekali, aku nglirik dikit-dikit ke mbaknya. Wajahnya masih pucat, tambah sayu. Karena lama-lama aku jadi takut, akhirnya aku udah nggak berani lagi ngliat ke mbaknya tadi sampe aku turun di halte deket RS Sardjito. Sungguh gadis misterius dalam bus!

Monday, August 24, 2015

Sakit Hati

Hari ini aku sakit hati
Berharap segera sadar diri

Hari ini aku sakit hati
Karya jauh dari apresiasi
Apakah aku gila dipuji?

Hari ini aku sakit hati
Tapi aku masih mampu berpuisi

Hari ini aku sakit hati
Karena hidup tak melulu hepi-hepi

Hari ini aku sakit hati
Semakin bingung menentukan orientasi

Apakah aku harus seperti makhluk tanpa hati, untuk melanjutkan mimpi?


Sunday, September 14, 2014

Being The Only Child

Hari Minggu yang cerah, namun sayangnya hatiku lagi mendung bergemulung. Selain nggak tidur semaleman karena nyari ebook sama jurnal (ciecieciecie), aku juga lagi galau mikirin nasib diri sendiri yang cenderung stuck, semacam nggak ada progress berarti. Emang sering gini sih, semacam ketakutan yang selalu menghantui di sepanjang perjalanan hidupku (mulailah lebay, meski lagi galau). Nah ternyata kegalauanku selama ini, setelah aku hubung-hubungkan dengan kehidupan pribadi akoh (mulai alay) sebagai anak tunggal, ada hubungannya. Kayaknya sih korelasi positif ya tapi nggak tau juga itu nilai p-nya berapa, pokoknya belum aku uji secara statistik (efek data belum diolah hiks hiks hiks). Yang jelas, aku mau ngasih tau (curcol sih) tentang suka duka menjadi the only child in my family!!! Jreng jreng jreng #OpeningSongnyaYolandaFromKangenBand #ApaHubungannya #KorelasiNegatif #AhSudahlah 

1. Kasih Sayang Ortu Takterbagi
Yak bener banget. Karena aku anak tunggal, maka kasih sayang, perhatian, waktu, duit, pokoknya semua-muanya buat aku. Contoh nyatanya adalah kemana-mana dianter, mau ke sekolah, belanja, ke nikahan temen (Oh men! Temenku even udah berani nikah dan aku dateng ke resepsinya masih dianter ortu??! kapan aku nikaaaaaah ya Allah? hiks hiks), sampe kadang ke kamar mandi juga dianter hahahaha. Contoh nyata kedua, meski nggak semua permintaanku diturutin (terutama permintaan dalam bentuk barang ya), tapi kalo itu penting, berguna, dan dirasa nggak ada salahnya aku punya, pasti dibeliin. Apalagi kalo barang yang aku minta itu men-support pendidikan banget (sifatnya educational), ortu nggak perlu mikir dua kali lah. 
Nah tapi tapi tapi kadang babe lebih perhatian sama kucing dan ingon-ingon lain. Contohnya adalah kalo emak masak lauk yang berbau hewani, babe rela semua lauknya dikasih ke kucing. Babe juga rela ngeloni kucing all night long sampe kadang emak dibuat cemburu. Jangan-jangan inilah penyebab aku nggak punya adik. Oh mai God. Oh my godness!! HAHAHAHA. Apalah ini OOT banget. Intinya dapet ya, my parents' love is undivided. 
2. Manja
Udah jenis kelaminnya cewek, jadi anak tunggal pula. Makanya ya jangan salahkan aku kalo aku manja banget. Manjaku gimana ya, mmmm lebih ke nyari-nyari perhatian, harus diperhatikan terus (tapi nggak suka sih kalo lebay sampe mendayu-dayu macem lagunya ST* yang Isabella). Mungkin sifat manja ini adalah efek dari poin 1. Jadi saudara-saudara, inilah yang dinamakan hubungan sebab-akibat, yakni ada variabel A yang menyebabkan terjadinya variabel B. Variabel B inilah yang disebut variabel terikat sedangkan variabel A disebut variabel bebas.  Dalam konteks ini, dengan adanya kasih sayang ortu yang takterbagi, dimana salah satu contohnya adalah permintaaan anak selalu diturutin dan diperhatikan sepanjang waktu maka seiring dengan berjalannya waktu akan terbentuk sifat alami dalam diri si anak yang menjadikan dirinya lebih dependent dan manja. Ah capek gueh sok statistik banget. 
Nah tambahan yak. Ini sekalian pemberitahuan buat calon suami aku juga, kalo aku nanti manja harus sabar dan pengertian ya. Ntar kalo aku nyidam pas hamil juga harus sabar kalo aku mintanya macem-macem, harus diturutin ya (awas kalo nggak!*ambilgolok*). Nggak hamil aja manja banget gimana kalo pas hamil. HAHAHAHAHA. 
Yaelah kenapa selalu OOT ya? Pantes aja skripsiku revisi terus. 
3. Tumpuan Harapan Orangtua
Nah poin ini mungkin ya yang bikin rada stres. Emmm bukan stres sih tapi lebih ke ada beban tersendiri. Sebagai anak satu-satunya, otomatis semua harapan orangtua ada di aku. Meski nggak ada paksaan dari orangtua, tapi ada semacam autodoktrinisasi olehku yang mengharuskan aku untuk ngasih yang terbaik, menjadi yang terbaik, dan jangan sampai mengecewakan ortu, terutama di bidang akademis. Selama ini dari mulai TK-sekarang prestasi akademikku bisa dibilang membanggakan. Untuk saat ini, utangku sama ortu masih ada satu : nylesein skripsi dan menjadi wisudawan terbaik fakultas. Semoga nggak ada yang IPK-nya lebih tinggi dari aku pas wisuda nanti. Tapi nggak mau juga kalo itu terjadi karena dari fakultasku cuma aku yang diwisuda. :'(
Tumben nggak OOT dan lumayan make a sense. 
4. Dibatasi
Aku nggak sebebas orang lain kalo mau kemana-mana. Kalaupun boleh kemana-mana, harus ada jaminan keamanan dan keselamatan. Orangtuaku, terutama ibuku nggak mau sedikitpun take a risk. Misalnya nih pas KKN dulu, aku kan milih di pulau kecil yang agak terpencil, kesananya harus nyebrang laut Jawa. Kalo aku nggak ngotot dan kalo itu bukan kegiatan wajib dari kampus, yakin 1000000% lah pasti nggak dibolehin. Mau main ke rumah temen yang rumahnya agak jauh aja, lebih baik aku dianter daripada aku harus naik motor sendiri. Please, I'm 22 yo and it's 2014! Tapi meski kesel dan kadang ngedumel sendiri, ya kepaksa harus nurut. Daripada aku kena walatnya emak. Soalnya biasanya yang sering ngasih batasan ini-itu (terutama soal bepergian) itu ibuku. Ya wajar dan aku maklum aja, itulah perasaan wanita yang telah menjadi ibu dan anaknya cuma sebiji. Kalo aku mati, emak gueh udah 45+ dan kayaknya udah nggak mungkin deh punya anak lagi, risiko gede meski beliau belum menopause. I know what you feel, Mak!
5. Kesepian dan Berat Banget Pas Jadi Single Fighter 
Jadi udah biasa kalo jadi jomblo di tanah rantau mah. Hahahaha. Orang di rumah juga nggak ada sodara juga, nggak ada temen ngobrol selain ortu. Lebih sering ngautis di kamar atau main sama kucing. Jarang main ke luar rumah pokoknya, temen di lingkungan rumah juga dikit yang usianya sebaya. Sekarang pas udah kuliah, nggak kaget kalo sering ngrasa kesepian. Hahahaha. Apalagi di masa-masa sekarang, dimana temen udah pada jauh, udah pada pergi, udah sibuk dengan urusan masing-masing. 
Soal jadi single fighter, aku yang dulunya dependent banget, sekarang sebisa mungkin dan sekuat tenaga berusaha supaya nggak banyak bergantung sama orang lain. Ini termasuk perjuangan berat lho buat aku yang di rumah biasa apa-apa ada, apa-apa ada yang bantu. Di sini aku nggak ada family juga,  pure kalo ada apa-apa yang bantu temen. Aku juga nggak punya temen banyak, karena aku tipenya lebih ke dikit temen tapi deket dibanding banyak temen tapi biasa. Jadinya ya agak keteteran juga kalo aku pas ada kesulitan terus pada nggak bisa bantu. 
Bisa dibilang juga kalo aku harus mengeluarkan effort yang lebih besar dibanding yang teman-temanku keluarkan, untuk mencapai tujuan yang sama! Itu karena aku dulunya nggak biasa melakukan apa-apa sendiri. Semacam kaget. 
Pokoknya buatku,  jaman kuliah itu semacam medan perang babak pertama sebelum aku masuk ke medan perang babak kedua pas aku kerja nanti yang harus 99% independent. Nah kadang aku ngrasa pesimis aku bakal bisa nglewatin babak pertama dengan sukses nggak ya? Itu sih yang sering bikin mental down. Hiks di bagian akhir curhatan kok jadi serius? :(

Oke aku rasa cukup sekian curhatan di Minggu siang ini. Entah kenapa akuuu jadi mellloooow. Intinya aku harus selalu bersyukur bersyukur dan bersyukur. I love you, Emak and Babe!! ♥

Sunday, January 12, 2014

Yesung

Yesung
Dudu titah anak turuning manungsa apamaneh jeneng janma saka laladan korea
Yesung
Amung kudangan saka jinising sato kewan awujud kura-kura
Werna ireng-wilis, yen mlaku megal-megol lucu nggemesake
Wis rong taun punjul ngenggoni kothak kaca rupak, kanthi banyu kang arang diganti
Ambu kang nduleg irung binarengan karo sliramu kang kumudu ucul, nginggati getiring kahanan :
KINUNJARA!
Yen ta aku iki nduweni kuwasa, wis wiwit mula sliramu uwal saka sakabehing lara-lapa

Thursday, August 9, 2012

Almost Finished!





Selama hampir 2 minggu stay di Jogja (it means ane nggak di rumah) melaksanakan "tugas negara", akhirnya hari ini selesai juga. Memang belum sepenuhnya selesai. Masih ada "tugas negara" lain yang menanti. Namun udah agak lega. Prosesnya emang agak sesuatuu banget yaaah, tapi dinikmati aja. Semangat Nadiah! Demi suksesnya sesuatu di tanggal 20 Oktober ! :')

Sunday, January 1, 2012

Pribadi yang Lebih Baik dari Pengalaman yang Buruk

Ada petuah bijak yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Hal tersebut memang ada benarnya. Karena dari pengalaman, kita menjadi belajar bagaimana agar kejadian yang buruk tidak terulang atau malah mengulang kesuksesan. Pengalaman baik maupun pengalaman buruk akan sama-sama memberikan manfaat bagi orang yang selalu mengambil hikmah di setiap pengalaman yang pernah dialami dalam hidupnya.
Diantara pengalaman-pengalaman yang saya alami di sepanjang hidup saya selama 19 tahun ini, ada satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan dan telah saya anggap menjadi guru terbaik bagi saya. Pengalaman buruk yang terjadi 8 tahun lalu waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya pada hari Selasa tanggal 30 September 2003 ini benar-benar mengubah hidup saya.
Pada hari naas tersebut, saya mengalami kecelakaan lalu lintas. Sepulang sekolah, kira-kira jam 2 siang, sehabis mengikuti jam tambahan saya bergegas pulang ke rumah karena masih harus mengikuti les matematika. Karena takut terlambat, saya tergesa-gesa saat menyeberang jalan raya. Meskipun sudah menyeberang di zebra cross, saya tertabrak oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai dengan kecepatan tinggi. Begitu sepeda motor menghantam tubuh saya, saya jatuh tersungkur dan tidak ingat apa-apa lagi. Setelah saya sadar, ternyata saya sudah dikerumuni banyak orang, namun saya masih dalam keadaan tersungkur di aspal. Saya lemas dan tidak bisa berdiri. Saya menyadari bahwa kaki kanan saya patah, lutut dan tungkai lecet-lecet, serta 4 gigi seri saya yang bagian depan hilang. Darah mengucur deras dari mulut saya. Baju atasan seragam merah-putih saya penuh dengan darah. Orang-orang lalu menggotong saya ke mobil dan segera melarikan saya ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, saya langsung dibawa ke IGD. Mulut saya ternyata robek dan harus dijahit. Luka-luka saya segera dibersihkan dan dilakukan rontgen. Tulang betis dan tulang kering saya patah, namun tidak sampai merobek jaringan kulit. Begitu saya keluar dari IGD, sudah ada kedua orang tua saya. Ibu menangis, sedangkan Bapak berulang-ulang beristighfar melihat keadaan saya. Saya merasa sangat bersalah karena telah membuat keduanya sedih akibat kecerobohan saya.
Akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit di Solo. Saya harus opname. Semalaman darah terus saja keluar dari gusi saya. Keesokan harinya, saya harus menjalani operasi. Saya merasa sangat khawatir karena takut operasinya gagal dan saya tidak bisa pulih seperti sedia kala. Namun beberapa jam sebelum operasi, tim psikiater dan kedua orangtua saya selalu memotivasi saya. Saya menjadi agak tenang dan optimis bahwa operasi akan berjalan lancar.
Saya opname selama 10 hari. Selama itu, saya total bedrest. Otomatis tidak bisa kemana-mana. Saya hanya membaca majalah, buku pelajaran, koran, atau apapun yang bisa menghilangkan kejenuhan saya. Saya tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa terbaring dan duduk. Dengan kondisi seperti ini saya menjadi sadar bahwa kesehatan adalah segala-galanya. Ibu begitu setia merawat dan menjaga saya. saya merasa sangat bersalah. Karena musibah yang saya alami adalah akibat dari melanggar nasihat orang tua. Pada hari saat saya kecelakaan, pagi harinya sebelum berangkat sekolah saya sudah dinasihati agar langsung menuju tempat les matematika. Karena jarak tempat les dengan sekolah saya cukup dekat. Saya menjadi sangat menyesal.
Selama di rumah sakit saya banyak memetik pelajaran yang sangat berharga. Pasien di sebelah saya, adalah balita berusia 2 tahun yang mengalami kelainan tulang kaki dan juga harus menjalani operasi. Melihatnya, saya menjadi iba namun juga merasa bersyukur karena dilahirkan dengan kondisi fisik yang normal dan sempurna. Begitu pula waktu saya dibawa ke ruang radiologi untuk memeriksa keadaan tulang kaki saya. Sepanjang perjalanan menuju ke ruang radiologi, saya melihat pasien-pasien yang keadaannya jauh lebih parah dan sangat memprihatinkan dibanding saya. Menurut cerita yang saya dengar, tulang mereka ada yang remuk dan harus diberi platina yang dilengkapi dengan ruji-ruji panjang yang menembus kulit mereka. Saya menjadi miris. Ada pula bayi yang berasal dari keluarga prasejahtera yang mengalami kelainan pada kakinya. Namun, di rumah sakit itu tidak ada pembedaan pelayanan. Baik pasien kelas III maupun pasien VVIP. Semua pelayanan yang diberikan kepada pasien adalah sama. Disitu saya menjadi berpikir bahwa jika kelak saya menjadi petugas kesehatan atau apa saja yang menjadi abdi masyarakat saya juga harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka.
Pengalaman buruk yang saya alami tersebut memang benar-benar mengubah hidup saya. Saya yang semula suka melanggar nasihat orangtua, mulai kejadian itu menjadi tidak lagi berani melanggar nasihat orangtua. Terutama yang berhubungan dengan keselamatan saya. Saya menjadi lebih care dengan keselamatan diri saya. Dengan pengalaman tersebut, saya bersyukur Tuhan masih menyelamatkan hidup saya dan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk hidup normal kembali meskipun memang tidak sesempurna dulu. Saya sangat bersyukur karena memiliki orangtua yang sangat mencintai dan menyayangi saya dan dari pengalaman itu saya mulai berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh mengecewakan orangtua dan harus selalu membahagiakan dan membanggakan mereka. Pengalaman buruk tersebut dulu memberi semangat kepada saya, bahwa saya harus menjadi tenaga kesehatan entah apapun itu dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat

Thursday, December 29, 2011

The Legend of Apung : The Never Ending Story

Putih, mungil, terkulai nggak berdaya dengan sisa tali pusat yang sudah mengering dan mata yang belum bisa melek T.T Itulah gambaran Apung yang gue temuin di ruang ganti sekolah 2 tahun silam. Siapa sih Apung? Okelah, Apung itu kucing, tepatnya kucing jantan dari etnis Jawa alias kucing lokal. hehehe. -______-"
Oke Let me start this sad story T.T, Jumat siang itu gue sama temen-temen baru selesai olahraga,  kayaknya sih dulu itu olahraga basket kalo nggak lari-lari, soalnya waktu itu keringat gue bercucuran. #Plak! bagian itu sebenernya nggak usah masuk cerita. Yaudah, lanjut yaah...karena pelajaran selanjutnya adalah Biologi (pelajaran favorit gue) dan Bahasa Mandarin, eh gue jadi inget lagi, guru Mandarin gue waktu itu masih Mr Zhang Zou (miss you, Mr. .semoga dirimu baik-baik saja di tanah airmu - China) #zzzzz -___________- gue nggak bisa konsen nih mau cerita ttg Apung. Lebih baik, kita tengok dulu wujud dia yang sebenarnya waktu berumur 2 bulanan :*
Hehehe bakat juga yah, Apung eksyen :D 
Okeee cint, mari lanjut bercerita, nah pas itu kami harus ganti pake baju seragam lagi kan yaa..Yaudah gue sama temen-temen langsung menuju ruang ganti pakaian. Nah di situ ada tumpukan kardus yang nggak kepake, pas gue sama temen-temen masuk kok kedengeran ada suara meong-meong kecil. Langsung kita ubek tiap sudut ruangan, nyari-nyari sumber suara. Ternyata ada 2 kucing yang masih keciiiiiilll bangeet, yaa seperti yang udah gue diskripsiin di bagian opening tadi. Yang putih masih idup, tapi yang satu yang warnanya kayak sapi perah, udah meninggal dunia T.T huhuhu tapi kayaknya meninggalnya belum lama, soalnya masih belum kaku. Tanggepan temen-temen gue bervariasi. Ada yang jijik, ada yang kasian, ada yang cuek, de el el. Yaudah lah ya, gue nggak peduli sama ekspresi temen-temen gue, yang penting gue harus nylametin bayi kucing itu ! #Be a Savior Nad! bisik gue dalem ati.Menurut analisis gue, emaknya si bayi kucing (Apung) itu nggak bisa ngasih ASK (Air Susu Kucing) ke Apung en sodaranya. Karena pintu ruang ganti biasanya dikunci. Gue mikir agak lama, kalo gue biarin si bayi kucing itu tetep disini dengan ekspektasi emak dia bakal nyusuin dia kayaknya gue nggak wise banget.  Ya kalau emak dia dateng? Kalo enggak berarti gue secara nggak langsung membunuh hewan dong yaa?? Atas saran temen-temen gue dan juga dorongan hati nurani gue yang terdalam, akhirnya gue memutuskan membawa bayi kucing itu pulang. Gue taroh si Apung di dalam kardus indomie (kalo nggak salah) terus gue bawa ke kelas dan gue letakkin di pojok kelas. Temen-temen cowok pada heboh, dengan komentar macem-macem. Gue cuek aja. 
Berita tentang bayi kucing yang gue bawa ke kelas menyebar ke kelas lain. Sampe ada temen dari kelas lain, si Fita sama Wina nengok si Apung dan bawain susu kotakan (rasa stroberi -___-) hahaha. Maksa banget, kita bertiga ngasih minum pake sedotan, ditetesin. Eh, si Apung malah megap-megap. Kita jadi nggak tega, mau nglanjutin aksi tersebut.
Nah, setelah bel masuk kelas berbunyi dan dilanjutin pelajaran Biologi, si Apung bikin ulah (sebenernya nggak bisa disalahin juga sih), dia meang-meong nyari emaknya (kayaknya). Temen gue cewek, yang masih trauma karena 2 hari sebelumnya nggak sengaja nglindes (aduh bahasa gue horor banget yah) anak kucing, ketakutan dan sampe nangis sambil nutup telinga. Karena dia ngrasa bersalah banget dan jadi keinget sama anak kucing yang nggak sengaja dia tabrak. Trus temen sebelah dia minta ijin sama gue buat mindahin Apung ke luar kelas. T.T Ya gue mau nggak mau harus rela Apung dipindahin, kan nggak enak juga sama temen gue. Akhirnya Apung dipindahin. Gue jadi kepikiran. Campur aduk perasaan gue jadinya. Takut Apung nggak aman di luar. #lebeeeeyyy banget, tapi bener kok kenyataannya emang begitu. 
Karena dihantui pikiran yang enggak-enggak, eeh air mata gue secara nggak sengaja netes, tes tes tes makin lama makin deres (padahal gue duduk di meja no2 dari depan). Akhirnya sepanjang pelajaran Biologi gue melipat tangan di atas meja dan menyembunyikan muka sembab. Untung nggak ditegur sama guru gue. 
Sampe berakhirnya pelajaran pada hari itu, gue nggak konsen sama sekali.Sekarang beda lagi masalahnya, gue galau banget. Pasti komentar emak gue macem-macem, secara di rumah udah ada 5 kucing -______-
Gue nggak mungkin bisa bawa kucing itu pulang, kalo gue pulangnya aja naik angkot. Akhirnya gue telpon babe, minta dijemput. Ya meski harus nunggu juga. Akhirnya babe dateng, dan seneng banget ngliat kucing temuan gue. hehehe. Soalnya babe gue juga catlover, bukan cuma catlover ding, tapi animallover :D Gue lega karena babe mendukung tindakan gue, soal tanggepan emak gue, dipikir ntar-ntar aja. hahaha
Sampe di rumah, untung emak gue masih masak di dapur, jadi nggak tau kalo gue bawa kardus isi bayi kucing. Gue taroh si Apung di teras. Sementara gue ke dapur, pura-pura bikin susu buat gue (Tapi sebenernya buat Apung). Emak gue juga nggak curiga. Rencananya, habis gue susuin (-_____- maksudnya, gue kasih susu), babe mau manjat plafon, karena kebetulan ada kucing gue yang baru nglairin sekitar 2 hari disitu. Jadi tujuannya, supaya kucing gue itu ngadopsi si Apung, meski nggak tau bakal berhasil enggak.
Tapi tiba-tiba pas gue menuju teras dari dapur, gue ngliat Betty (kucing gue yang punya anak di plafon) ngegondol  (apalah bahasanya) Apung. Dia udah manjat pohon rambutan, menuju genteng rumah gue, dan gue tebak dia bakal bawa Apung ke plafon. fiuuhhh...gue legaaa bangett, nggak nyangka kalo si Betty ternyata memiliki naluri keibuan yang luarrrr biasa. Padahal biasanya kucing itu sangat peka buat bedain antara bayi kandunganya dan bayi kucing lain. hoho. .(gue juga lega karena emak gue nggak tau kalo gue mungut bayi kucing hahahha beliau baru tau setelah Apung berusia 2 bulan wokwokwok )
Sampe sekarang, Apung masih idup. Tapi si Supermama, Betty udah meninggal. T.T Padahal tanpa dia, gue nggak yakin gue bakal berhasil ngrawat Apung atau enggak. hehehe
Penasaran wujud Apung di masa sekarang? niihhh wujudnyaa :D
Oh yaaa..penasaran juga sama supermama kucing (Betty) ?? Iniiii diaaaaaaaaaa :)

Sekiaaan cerita kali ini..maaf yaa terlalu alay. hehehe ciii yuuu next time ♥

P.S : kenapa Apung gue kasih nama Apung? karena Apung adl singkatan dari Anak PUNGut :) hehehe